Saturday, September 09, 2006
sepi menggulung membukus raga
yang terpatri dalam pada jejak waktu yang tersia
bayanganbayangan selintas datang dan pergi
wajahwajah waktu menari menjelmakan ilusi
kau melintas di ujung jalan itu
menghilang pada satu belokan di ujung sana
namun senyummu masih tertinggal
di sini, di relung asa yang hampir mati
sendiri mencecap kesunyian tanpamu, tanpanya
tanpa mereka
lihatlah bulan disana, katamu
bukankah ia sendirian sepertimu?
ia tidak pernah mengeluh
setia mencerap sinar mentari
untuk ia hadirkan kembali di malammalam dingin
kau ingin aku menjadi seperti bulan itu?
seribu lelawa terbang menjelmakan bayangan
seorang lelaki berjalan sendiri
melintasi loronglorong sunyi
menghilang di sebuah sudut kota
dan bulan masih ada di atas sana
setia dalam kesunyiannya
: Jatinangor 9 September 2006
dikirim pada 11:08 pm
Permalink
Saturday, September 02, 2006
Keramaian di luar pintu
Kekosongan di dalam diri
Jatinangor, 2 -09 -2006
dikirim pada 11:07 pm
Permalink
Tuesday, August 22, 2006
sekantong susu di pagi hari
ku seruput lamatlamat lewat sedotan
bukan susu segar bukan susu instan
sekedar menjadi sarapan penahan lapar
masih lama tiba makan siang
sekantong susu yang ku beli di warung depan
seribu lima ratus rupiah cukup untuk seharian
sedikit berhemat mencoba menabung uang
meski tubuh lemas lunglai terkadang
sehari semalam hanya satu piring yang ku makan
sabar, kata bapakku
prihatin, kata ibuku
di tanah rantau apapun harus bisa dilakukan
di tanah rantau harus bisa bertahan dari cobaan
rasa lapar adalah wajar
letih lelah menjadi penanda perjuangan
pulanglah sebagai seorang pemenang
sekantong susu di pagi hari
ku seruput lamatlamat dari sedotan
silau matahari mulai muncul dari balik dindingdinding kos-kosan
penanda hari telah lagi berulang
Jatinangor, 22 08 2006
dikirim pada 10:18 am
Permalink
Pada Malam Tergelap Sebelum Fajar
selalu ada yang tak bisa ku pahami
saat jarum jam berdetak perlahan, sendiri
kamar yang gelap
siluetsiluet cahaya temaram lampu di luaran
kokok ayam jantan terdengar perlahan
sekelebat bayangan melintas menghampiri
setan kah?
ah, tak mungkin
mungkin bayangan seseorang melintas di luar sana
tik..tok..tik..tok..
suara itu nyaring terdengar
mengiringi detak jantung dan desah nafasku sendiri
tik..tok..tik..tok..
aku masih terjaga dalam tidur ayamku
telentang di atas kasur itu
jalanan lengang
kemana aku harus melangkah dalam kesendirian
tak tahu arah tak tahu tujuan
tik..tok..tik..tok..
perlahan gema adzan bersahutan
telah beribu tik..tok aku lalui
mata belum juga lelah
aku hanya ingin tidur tenang malam ini..
Jatinangor, 16-08-06, dini hari.
dikirim pada 10:17 am
Permalink
Sunday, August 06, 2006
selalu saja ada hasrat untuk berhenti..
di saat langkah terasa berat menyiksa..
lelah yang ku jalani..
sendiri di jalan ini..
belum jua ku lihat ujung di jalan ku..
tempat ku akan berhenti..
melepas lelah..
berbaring istirah..
menatap langit biru nan cerah..
jtn, 5-8-06
dikirim pada 10:16 am
Permalink
Sunday, July 09, 2006
pernah ada satu masa saat kita berada di bawah satu langit yang sama
merasai silir angin dan hembus udara yang sama
di pundak kita, satu tugas dan tanggung jawab yang sama
jemari kita pernah samasama berebu, sekujur tubuh kita bau
kita pun istirah melepas lelah
dan berbagi hidangan yang sama
kau ingat tawa anak-anak kecil itu
seri di wajah polos mereka pernah kita senyumi bersama
lalu, waktu pun bicara
ego dan kedirian kita bermainmain atas nama kesibukan, cita dan ingin kita
kita pun melangkah sendiri, di atas jalan dan pilihan hidup kita
kini, saat kenangan dan kerinduan kehangatan itu hadir
salahkah jika aku bertanya
masih adakah ruang untuk kita bersua kembali
merajut kenangan yang terserak, menyatu lagi
sekedar bersama berbagi kisah, menghalau rindu
mengusir penat di harian kita?
masih adakah?
meski hanya sesaat
meski hanya sementara
Jatinangor, 8-7-2006. Guys, girls, where are u?
dikirim pada 10:12 am
Permalink
Saturday, May 27, 2006
Setelah Lama Tak Berpuisi
[I]
aku merindukan cinta seperti seorang bayi
merindukan air susu ibunya lalu menyesaplah mulut mungil itu
sesap demi sesap sampai terpuaskan dahaga
aku mendambakan cinta seperti seorang musafir
kehilangan arah dan tersesat dipermainkan
khayalannya sendiri dan fatamorgana
mendambakan oase di tengah gurun tandus
tempat ia akan istirah melepas lelah
lalu bermainlah ia dengan kesejukan dan kesegarannya.
aku mengharapkan cinta seperti seribu kemarau
tak berujung mengharap turunnya hujan mengalir
lalu membasahlah ia meski genangan dan banjir tercipta.
aku..
ah.. sudahlah..
siapalah aku..
[II]
Keheningan menyapaku dalam dingin yang membekukan sendi
Bulan kuning pucat tertusuk pucukpucuk daun mendendangkan simfoni
Langkahku tergesa menyusuri jalanan sepi
Mencari arti diri menggapai mimpimimpi
Pada belokan terakhir aku berhenti
Aku telah lelah? Bukan.
Juga bukan karena sesuatu yang menunggu di sana
Aku berhenti
Melihat jejak yang telah terlewati
Namun ia tak ada
Betapa waktu telah tersia
Jalanan lengang
Tak satu pun terkenang
Jatinangor, 28 April 2006
[III]
gerimis merintik membekas genang
hembus dingin mencipta gigil
gadis kerudung biru melangkah sendiri
berpayung menyusuri jalanan sepi
berhentilah! tunggu aku, kataku
di ujung sana cinta menanti
di ujung sana rindu menunggu
bukankah kita satu arah?
namun ia melangkah tergesa
tak pedulikan angin menyibak kerudungnya
Ooo.. betapa aku mencemburui angin itu
diamdiam tak terlihat membelai wajahnya
menyusup tak bersuara ke sela rambutnya
berhentilah! tunggu aku, kataku
sebuah mobil melintas
berhenti tepat di depannya
pintu terbuka
ia bergegas pergi
cinta telah meninggalkanku
gadis kerudung biru dalam mobil abuabu
Jatinangor, 28 April 2006
dikirim pada 10:34 am
Permalink
Sunday, February 26, 2006
Seribu Kenang Seribu Bayang
Seribu kunang mengepungku
Membawa seribu kenang pada setiap sayapnya
Berebut perhatian
Silih memadati pikiran
Wajahwajah itu..
Dalam photo berbingkai kayu
Tersenyum Oooh…
Suara riang tawa mereka
Masih mengiang di telinga
Kebersamaan
keluarga
Persahabatan
Cinta..
Kenang.. kenang.. kenang
Kilasan kesadaran menghentak
Dada serasa sesak
Bayang.. bayang.. bayang..
Semua tinggal bayang
Sadari waktu telah berlalu
Sadari hari telah menua
Sadari diri beranjak usia
Menggerus luka, duka, cinta dan cita
Menjadi masa lalu
Satu persatu melepas pergi
Menjejak lukisan kanvas memori
Dan aku..
Masih saja sendiri
Bertahan dalam diam dan sepi
Mengejar cita dan mimpi
Entah…
Jatinangor, 26 – 02 – 2006 0:25
dikirim pada 12:33 am
Permalink
: siapapun yang pernah berkisah
Saat aku buka lebar semua tirai indraku
Aku tersadar kau telah tiada
Mataku tak lagi melihat tubuhmu lalu lalang di depan sana
Foto dan gambarmu tak lagi menghiasi koran-koran dan berita
Telingaku tak lagi mendengar suara, bahkan kecap mulutmu pun tidak
Tak lagi aku dengar orang berbicara tentangmu, bahkan bisik-bisik pun tidak
Hidungku tak lagi membaui tubuhmu, meski sisa-sisa
Tubuhku tak lagi merasai tubuhmu, meski selapis tipis aura
Ibu telah menelanmu kembali ke dalam rahimnya
Membusuk bersama jasad renik dan belatung menjadi huma
Menyisakan belulang di kuburmu sekadar menjadi penanda di situ kau berada
Bertahun-tahun aku baca kisahmu lewat gerak bibirmu
Juga rangkaian kata yang meliuk-liuk di buku harianmu
Bertahun-tahun kau memenuhi ruang otakku
Menjadi Zahir*-ku
Berbilang purnama kau ceritakan kepadaku dongeng-dongengmu
Kisah-kisah yang aku tak tahu darimana asalnya
Karanganmu kah ?
Atau kau mendengarnya dari orang-orang.. lalu kau dongengkan kepadaku
Wahai, lihatlah dari kuburmu
Aku merindukan kisah-kisahmu
Dulu kau ceritakan padaku kisah seorang pendongeng
Mengisahkan dongeng dan cerita kepadamu
Lalu ia pergi berkunjung ke tanah kematian
Kau pun sendiri.. sepertiku kini
Kau merindukan kisah-kisahnya
Lalu aku tahu aku harus berkisah
Untuk mengobati kerinduanku pada kisah-kisahmu
Untuk menemukan lagi kisah-kisahmu pada kisah-kisahku
Jatinangor, 2 Februari 2006
* Zahir, dari novel Paulo Coelho, The Zahir
dikirim pada 12:31 am
Permalink
Pengakuan dan Peng-aku-an
Lalu...
Aku sujud bersimpuh dihadapan-Mu
Mencari hadir-Mu dalam kepasrahanku
(atau keputusasaanku ?)
Lalu mengapa Kau diam saja ?
Kau menjauh saat aku ingin mendekati-Mu
Semakin aku ingin begitu dekat
Kau semakin jauh
Tidak seperti sebuah lagu
Aku jauh Engkau Jauh
Aku dekat Engkau Dekat )*
Engkau dekat justru ketika aku menjauh
Kemarin aku merasa Kau begitu dekat
Saat aku mendustai dan melanggar perintah-Mu
Kau begitu dekat saat aku mencoba meniadakan-Mu
Sungguh..
Kurasakan Kau begitu dekat untuk mengingatkan kesalahanku
(atau untuk menghukumku ?)
Aku kering.. terbakar oleh nafsu dan setan dalam diri
Daun-daunku meranggas, tanah berpijakku menjelma api
Saat dongeng masa kecil tentang surga dan neraka-Mu tiada lagi berarti
Saat akal dan rasio meniadakan-Mu karena kau bukan materi
Saat supremasi manusiaku menuntut eksistensi
Lalu...
Aku sujud bersimpuh dihadapan-Mu
Mengharap ampunan-Mu akan silap dan khilafku
(atau kekeraskepalaan dan kebodohanku ?)
Tapi Kau menjauh, semakin menjauh
Menjadi titik di kejauhan
Menjadi bintang di tinggi langit malam
Menjadi debu-debu berhamburan
Tak cukup sujud kusembahkan untuk menghadirkan-Mu
Tak cukup doa kupanjatkan untuk dekat dengan-Mu
Jatinangor, 2 Februari 2006
)* dari lagu Gigi
dikirim pada 12:26 am
Permalink
Google Modules